Joonner Rambe, Anak Desa Jadi Baginda Agung Panuturi Hasadaon


“Argado bona ni Pinasa diangka na bisuk marroha…dst” syair lagu Batak ini adalah menggambarkan perlunya kecintaan akan kampung halaman. Banyak anak desa yang berhasil diperantauan namun tak mempedulikan kampung halamannya. Mandiang Mantan Gubsu Raja Inal Siregar telah mencetuskan program yang sempat gaungnyan sampai kemana-mana dengan nama “Marsipature Hutanabe” (Martabe).
Joonner Rambe, SE putra tano Tombangan, Desa Sipotangniari, Kecamatan Sayurmatinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan, salah seorang anak desa yang cinta akan kampung halaman yang dibuktikan dengan membangun berbagai sektor terlebih pembangunan SDM melalui perhatiannya dibidang pembangunan di sector pendidikan.
Joonner Rambe, SE jebolan SMPN1 Hutaraja, Tantom Tahun 1982, melanjutkan pendidikan SMA di Jakarta sampai perkuliahannya. Usai menyelesaikan Sarjana Ekonominya, Joonner Rambe, SE yang dipersunting istrinya boru Lumbantobing, memulai karirnya sebegai pekerja di berbagai perusahaan.
Berkat kesabaran dan keuletannya, akhirnya dia mendapat promosi untuk memimpin berbagai perusahaan diantaranya Manager di PT. Kratama Belindo International (Belanda) kemudian di PT. Bumi Kaya Steel bergerak dibidang pipa dan baja.
Berdasarkan pengalaman yang dia kuasai, akhirnya tahun 1999 dia beralih bisnis sendiri yang dimulai dari Perusahaan biang Jasa dan Pabrik Spare part juga dibidang perkebunan Sawit sampai memiliki ribuan pekerjanya. Menyadari adanya berkah yang dia miliki atas pemberian Tuhan, Joonner Rambe memberikan perhatiannya kekampung halamannya yang boleh dikatakan belum tersentuh pembangaunan secara merata. “Masih terngiang di telingaku disaat pulang kampung dua tahun silam dimana para orangtua mengatakan desa kami masih terisolir.
Jalan tidak bagus, sekolah sangat dibutuhkan. Aku sedih melihat keadaan kampungku sementara aku di Jakarta bias menyaksikan segala sesuatu. Aku akan berusaha membangun kampung ini juga membangun kebersamaan” ujar Joonner saat memberikan pertapakan Pembangunan SMKN di kampungnya pertengahan tahun 2009.
Joonner Rambe,SE yang mempunyai 3 putri dan paling besar kelas 6 SD telah memberikan bantuan computer diseluruh sekolah yang ada di Tano Tombangan disamping ribuan berbagai judul buku-buku dan kamus baik untuk tingkat SD, SMP dan SMA/SMK juga Bea Siswa.
Keinginan Joonner Rambe untuk menigkatkan pendidikan di desanya terus dilaksanakan terbukti telah diserahkannya pertapakan SMK N kepada Bupati Tapsel dengan membayar ganti rugi kepada pemilik tanah dengan biaya ratusan juta rupiah dan sekarang sedang dalam tahap pembangunan dan sudah menerima siswa baru.
Melihat ketulusan hati Joonner Rambe putra paling kecil dari delapan bersaudara itu membangun Tantom, sehingga para masyarakat dari 17 Kepala desa dan 1 Kelurahan sepakat untuk memberikan Gelar sekaligus penobatannya dengan memberikan Gelar Kehormatan tertinggi dalam Adat Batak dengan nama Joonner Rambe, SE gelar “Baginda Agung Panuturi Hasadaon” dan istrinya di beri Gelar “Ratu Namora Hasayangan” yang direncanakan penobatan itu dilaksanakan tanggal 29 Desember 2009 sesudah pelaksanaan acara Adat yang dimulai dari tanggal 27-29 Desember 2009 yang akan di hadiri 48 marga sebagai Hula-hula disamping itu penobatan akan dihadiri semua Tokoh Adat, Tokoh Agama, Harajaon, Raja-raja Tapsel, Alim Ulama dan undangan lainnya yang diperkirakan sebanyak 3000 orang akan menghadiri pesta yang dilaksanakan pagi, siang dan malam dengan menampilkan Gondang Sabangunan serta uning-uningan tradisional.
Adanya keinginan seluruh tokoh Adat menobatkannya dengan gelar Baginda, Joonner Rambe, SE yang juga sudah dinobatkan menjadai ketua “ Ikatan Keluarga Besar Tanto di Perantauan” yang pelantikannya di Jakarta 30 Nopember 2009 dihadiri Bupati Tapsel Ongku P Hasibuan, Wakil Ketua DPRD Tapsel Abdur Rasyid Lubis serta Ketua Komisi III Makmud Lubis, tengah membangun gedung yang diberi nama ISTANA HASADAON dimana gedung itu diperuntukkan untuk kegiatan social kemasyarakatan, seperti tempat rapat, pertemuan-pertemuan tertentu tanpa membedakan Suku, Agama.
“Istana Hasadaon ini kita bangun untuk depergunakan masyarakat Tantom dengan berbagai aktivitas. Kegiatan apapun silahkan saja, Muslim, non Muslim bisa menggunakan gedung ini.” Ujar Joonner yang berjanji dalam hatinya akan terus membangun didesanya terlebih membangun kebersamaan di desa yang pularitasm itu.
Tantom yang akan diresmikan menjadi kecamatan pemekaran di tahun 2010, juga tidak terlepas dari dukungan serta dorongan Joonner Rambe, SE dimana disamping pemikiran, saran juga materi tidak diperhitungkan demi kemajuan desanya. “Bila desa ini Kecamatan pasti akan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” Ujarnya pria yang masih berusia tiga puluhan itu semangat.
Joonner, yang bercita-cita akan menjadikan masyarakat Tantom bersatu padu, saling dukung mendukung walau beerlainan suku dan agama mengatakan keseriusannya membangun Tantom diberbagi sector yang nantinya Tantom bisa maju selangkah dari kecamatan lainnya di Tapsel.
“Kita harapkan keinginan ini bisa disahuti Pemerintah dengan membangun infrastruktur terutama jalan yang dari puluhan tahun sulam selalu diharapkan bisa bagus.” Ujarnya sambil merahasiakan lokasi adanya rencana membangun pariwisata di wilayah desanya.
Joonner Rambe, SE berjanji akan memberikan fasilitas dan bantuan lainnya kepada Para Pemuda yang ada didesanya bila melakukan aktivitas yang benar-benar berkesinambungan juga yang mendukung, menopang persatuan dan kesatuan di tengah-tengah masyarakat.” Kita harapkan tidak ada pemuda yang mlas, pengangguran, jangan diibilang tak ada kerjaan.
Banyak pekerjan di desa ini kalau memang ada kemauan. Keseriusanku ikut campur tangan di pendidikan adalah agar nantinya mereka seusai tamat bisa menggunakan akal pikirannya untuk bekerja. Bukan PNS saja sasaran untuk bekerja” ujarnya tegas.
Joonner Rambe, SE yang benar-benar didukung istri tercintanya di setiap usahanya terus terang mengatakan semua pembangunan yang digelutinya selalu didahului penghormatannya kepada almarhum kedua orangtuanya.
Joonner Rambe, SE atas kesepakatan dan persetujuan keluarga, telah mendirikan tempat pemakaman (Tambak) yang diberi nama “Pondom Haijuran” (Semuanya yang hidup akan kembali ke tanah/dikuburkan) dan Pondom Haijuran tersebut dibangun sebelum pembangunan Istana dan letak Pondom tersebut persis di belakang bangunan istana.
“Dimanapun aku nantinya meninggal, jasadku akan dikubur di Pondom ini” Ujarnya sambil menunjukkan posisi kuburannya bila kelak Tuhan telah memanggilya.
K. Rambe(45) mengatakan rasa syukurnya melihat kemauan saudaranya untuk membangun desanya tanpa mengharapkan pujian dan juga tanpa memandang perbedaan di antara masyarakat.
Lebih lanjut dikatakan apa yang diinginkan Joonner dalam kebersamaan tersebut sudah mulai terbukti dimana persiapan jelang penobatannya menjadi Baginda dikerjakan Warga tanpa membedakan suku dan agama.
“Mudah-mudahan anak Tantom yang sudah berhasil diperantauan bisa mengikuti jejak Joonner,” ujar Rambe yang juga sebagai aktifis LSM.


Sumber : Perjuangan, Catatan : Drs. RT. Sitompul, Senin, 28 Desember 2009

Berita Terkait